Senin, 01 Desember 2014

50 Nasihat Luqman Al-Hakim Kepada Anaknya


Al-Qur’an adalah sumber hukum dan ilmu pengetahuan yang tak pernah kering untuk ditimba, penuh dengan pelajaran, di dalamnya terdapat hikmah dan teladan. Salah satu isi pokok dari Al-Qur’an adalah kisah perjalanan kehidupan para Nabi dan Rasul serta orang-orang saleh dari umat-umat sebelum Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Hikmah di ceritakannya sirah manusia-manusia pilihan itu tidak lain karena besarnya manfaat dari keteladanan iman, sifat dan akhlaq mereka. Maka di sini akan di angkat sebuah kisah Luqman Al-Hakim yang penuh dengan hikmah bagi kita semua.


Berikut Nasihat Luqman Al-Hakim Kepada Anaknya:

1.  “Wahai anak kesayanganku, Allah SWT memperhatikan dirimu dalam kepekatan malam, saat engkau shalat atau tidur di belakang tabir di dalam istana. Dirikan shalat dan jangan engkau merasa ragu, melakukan perkara makruh dan melempar jauh segala kejahatan dan kekejian.”
2.  “Wahai anakku, selalulah berharap kepada Allah SWT tentang sesuatu yang  tidak mendurhakai Allah SWT. Takutlah kepada  Allah SWT dengan sebenar-benar takut (takwa), tentulah engkau akan terlepas dari sifat berputus asa dari rahmat Allah SWT.”
3.  “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah SWT (dengan sesuatu yang lain), sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman yang besar.”
4.  “Wahai anakku, bersyukurlah kepada Tuhanmu karena karuniaNya. Orang yang mulia tidak mengingkari Penciptanya kecuali orang yang kufur.”
5. “Wahai anakku, bukanlah satu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencari ilmu tetapi engkau tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tidak ubah seperti orang yang mencari kayu api, setelah banyak ia tidak mampu memikulnya, padahal ia masih mau menambahkan.”
 6.  “Wahai anakku, ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam ke dalamnya. Jika engkau ingin selamat, agar jangan karam, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama takwa, isinya ialah iman dan layarnya adalah tawakal kepada Allah SWT.”
7. “Wahai anakku, orang-orang yang sentiasa mau menerima nasihat, maka dirinya akan mendapat penjagaan dari Allah SWT. Orang yang insaf dan sadar setelah menerima nasihat orang lain, maka dia akan sentiasa menerima kemulian dari Allah SWT juga.”
8.  “Wahai anakku, jadikanlah dirimu dalam segala tingkah laku sebagai orang yang tidak ingin menerima pujian atau mengharap sanjungan orang lain karena itu adalah sifat riya’ yang akan mendatangkan cela pada dirimu.”
9.   “Wahai anakku, janganlah engkau berjalan dengan sombong serta takabur, Allah SWT tidak menyukai orang yang sombong dan takabur.”
10. “Wahai anakku, selalulah baik tutur kata dan halus budi bahasamu serta manis wajahmu, dengan demikian engkau akan disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yang pernah memberikan barang yang berharga.”
11.  “Wahai anakku, bilamana engkau mau mencari kawan sejati, maka ujilah dia terlebih dahulu dengan berpura-pura membuatnya marah. Bilamana dalam kemarahan itu dia masih berusaha menginsafkan kamu, maka bolehlah engkau mengambilnya sebagai kawan. Bila tidak, maka berhati-hatilah.”
12.  “Wahai anakku, apabila engkau berteman, tempatkanlah dirimu sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu darinya. Namun biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu.”
13.  “Wahai anakku, siapa yang penyayang tentu akan disayangi, siapa yang pendiam akan selamat dari berkata yang mengandung racun dan siapa yang tidak dapat menahan lidahnya dari berkata kotor tentu akan menyesal.”
14.  “Wahai anakku, bergaullah dengan orang yang alim lagi berilmu. Perhatikanlah nasihatnya, karena sesungguhnya, menyejukkan hati mendengarkannya, hidupkanlah hati ini dengan cahaya hikmah dari mutiara kata-katanya, bagaikan tanah yang subur lalu disirami air hujan.”
15.  “Wahai anakku, janganlah engkau mudah tertawa kalau bukan karena sesuatu yang menggelikan hati, janganlah engkau berjalan tanpa tujuan yang pasti, janganlah engkau bertanya sesuatu yang tidak ada guna bagimu, dan janganlah menyia-nyiakan hartamu.”
16.  “Wahai anakku, saat kamu shalat, jagalah hatimu, saat kamu makan, jagalah kerongkongmu, saat kamu berada di rumah orang lain, jagalah kedua matamu dan saat kamu berada di kalangan manusia, jagalah lidahmu.”
17.  “Wahai anakku, usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata-kata yang busuk, kotor serta kasar, karena engkau akan lebih selamat bila berdiam diri. Kalau berbicara, berusahalah agar bicaramu mendatangkan manfaat bagi orang lain.”
18.  “Wahai anakku, berdiam diri itu adalah hikmah (perbuatan yang bijak) sedangkan amat sedikit orang yang melakukannya.” 
19.  “Wahai anakku, janganlah engkau mengantarkan orang yang tidak cerdik sebagai utusan. Bila tidak ada orang yang cerdik, sebaiknya dirimu saja yang menjadi utusan.”
20. “Wahai anakku, janganlah engkau berteman dengan orang yang bersifat talam dua muka, kelak akan membinasakan dirimu.”
21.  “Wahai anakku, sesungguhnya orang bertalam dua muka bukan seorang yang jujur di sisi Allah SWT.”
22.  “Wahai anakku, jauhilah bersifat dusta, sebab berbohong itu mudah dilakukan, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit saja berdusta, telah memberikan akibat yang berbahaya.”
23. “Wahai anakku, siapa yang berbohong, hilanglah air mukanya dan siapa yang buruk akhlaknya, banyaklah duka citanya.”
24. “Wahai anakku, bersabarlah atas apa yang menimpa dirimu karena yang demikian itu menuntut kepastian kukuh darimu dalam setiap kejadian dan urusan.”
25.  “Wahai anakku, apabila engkau mempunyai dua pilihan, di antara takziah orang meninggal atau hadiri pernikahan, pilihlah untuk menziarahi orang mati, sebab itu akan mengingatkanmu kepada akhirat sedangkan menghadiri pesta pernikahan hanya mengingatkan dirimu kepada kesenangan duniawi saja.”
26. “Wahai anakku, janganlah engkau makan sampai kenyang, karena sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu adalah lebih baik bila diberikan kepada  anjing saja.”
27.  “Wahai anakku, janganlah engkau langsung menelan saja karena manisnya barang dan janganlah engkau langsung memuntahkan karena pahitnya barang itu, karena manis belum tentu menimbulkan kesegaran dan pahit itu belum tentu menimbulkan kesengsaraan.”
28. “Wahai anakku, aku pernah makan makanan yang baik dan memeluk yang terbaik tetapi aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih lezat dari kesehatan.”
29. “Wahai anakku, seandainya perut dipenuhi makanan, akan tidurlah akal fikiran, terkendala segala hikmah dan lumpuhlah anggota badan untuk beribadah.”
30. “Wahai anakku, apabila perutmu telah penuh sesak dengan makanan, maka akan tidurlah fikiranmu, lemah hikmahmu, malas anggota tubuhmu beribadah kepada Allah SWT, hilanglah kebersihan jiwa dan kehalusan pengertian, yang karena keduanyalah dapat memperoleh lezatnya munajat dan berkesannya zikir pada jiwa.”
31.  “Wahai anakku, makanlah bersama dengan orang-orang yang takwa dan musyawarahkanlah urusanmu dengan para alim ulama dengan cara meminta nasehat dari mereka.”
32. “Wahai anakku, jangan engkau durhaka terhadap ayah bundamu dengan apa pun juga, kecuali bila mereka menyuruhmu durhaka kepada Allah.”
33. “Wahai anakku, Allah mewasiatkan kamu; berbuat baiklah kepada ayah bundamu. Jangan engkau menghardik mereka dengan perkataan maupun perbuatan yang dibenci.”
34. “Wahai anakku, seandainya ayah bundamu marah karena kekhilafan yang kamu lakukan, maka marahnya ayah bundamu adalah seperti baja bagi tanaman.”
35. “Wahai anakku, orang yang merasa dirinya hina dan rendah diri dalam beribadah dan taat kepada Allah SWT, lalu dia tawadduk kepada Allah SWT, dia akan lebih dekat kepada Allah SWT dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepada Allah SWT.”
36. “Wahai anakku, seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya karena tidak dipercayai orang dan seorang yang telah rusak akhlaknya akan sentiasa banyak melamunkan hal-hal yang tidak benar.”
37.  “Wahai anakku, sendainya ada sebutir biji sawi terpendam di dalam batu, pasti diketahui  oleh Tuhanmu Yang Maha Melihat, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, lahir maupun bathin atau apa yang engkau sembunyikan di dalam dadamu.”
38. “Wahai anakku, ketahuilah, memindahkan batu besar dari tempatnya itu lebih mudah daripada memberi pengertian kepada orang yang tidak mau mengerti.”
39. “Wahai anakku, engkau telah merasakan betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat berat, tetapi akan lebih berat lagi bila engkau mempunyai jiran yang jahat.”
40. “Wahai anakku, aku pernah memindahkan batu-bata dan memikul besi, tetapi tidak pernah melihat sesuatu yang lebih berat daripada hutang.”
41.  “Wahai anakku, jauhkanlah dirimu dari berhutang, karena sesungguhnya berhutang itu menjadikanmu hina di waktu siang dan gelisah di waktu malam.”
42. “Wahai anakku, apakah tidak engkau perhatikan, apa yang Allah bentangkan bagimu apa-apa yang ada di langit dan di bumi kebaikan yang amat banyak?”
43. “Wahai anakku, apa yang engkau nikmati di kehidupan ini karena karuniaNya yang penuh keamanan, keimanan dan kebaikan yang melimpah ruah, di taman dunia yang subur mekar dengan bunga-bunga serta tumbuhan yang berseri-seri.”
44. “Wahai anakku, ambillah harta dunia sekedar keperluanmu saja dan nafkahkanlah selebihnya untuk bekal akhiratmu.”
45. “Wahai anakku, janganlah engkau condong kepada urusan dunia dan hatimu selalu disusahkan oleh dunia saja kerana engkau diciptakan Allah SWT bukanlah untuk dunia saja. Sesungguhnya tiada makhluk yang lebih hina daripada orang yang terperdaya dengan dunianya.”
46. “Wahai anakku, jangan engkau buang dunia ini ke tempat sampah karena nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya, janganlah engkau peluk dunia ini serta meneguk habis airnya karena sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka.”
47.  “Wahai anakku, tidak ada kebaikan bagimu untuk mempelajari apa yang belum kamu tahu sedangkan kamu belum beramal dengan apa yang kamu tahu.”
48. “Wahai anakku, ingatlah dua perkara yaitu Allah SWT dan mati, lupakan dua perkara lain yaitu kebaikanmu terhadap hakmu dan kebaikanmu terhadap orang lain.”
49. “Wahai anakku, kehinaan dalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT lebih mendekatkan diri daripada mulia dengan maksiat kepadaNya. Janganlah engkau tunda untuk bertaubat, sebab kematian datangnya tiba-tiba, sedang malaikat maut tidak memberitahukannya terlebih dulu.”

50. “Wahai anakku, sesungguhnya lama menyepi itu dapat memahami fikiran dan lama berfikir itu adalah petunjuk jalan ke syurga.”

Luqman Al-Hakim dan Kisahnya

Luqman Al-Hakim


Luqman itu adalah anak kepada Faghur bin Nakhur bin Tarikh (Azar), dengan demikian itu Luqman adalah anak saudara kepada Nabi Ibrahim a.s.; atau dikatakan juga Luqman itu anak saudara kepada Nabi Ayub a.s.
Diriwayatkan juga bahawa Luqman telah hidup lama sampai seribu (1,000) tahun sehingga dapat menemui zaman kebangkitan Nabi Daud a.s., bahkan dia juga pernah menolong Nabi Daud a.s. dengan memberikan kepadanya Hikmah atau kebijaksanaan. Luqman pernah menjadi Kadi, yakni hakim, untuk mengadili perbicaraan kaum Bani Israel.
Dipetik dari Ibnu ‘Abbas katanya: “Luqman bukanlah seorang nabi mahu pun raja tetapi beliau hanyalah seorang pengembala ternakan yang berkulit hitam. Lalu Allah telah memerdekakannya dan sesungguhnya Dia redha dengan segala kata-kata dan wasiat Luqman. Maka kerana itu, kisah ini diceritakan di dalam AI-Quran agar kita semua dapat mengambil pedoman dan berpegang dengan wasiat-wasiatnya.”
Adalah diceritakan, bahawa Luqman telah tidur di tengahari lalu kedengaran suara memanggilnya: “Hai Luqman! Mahukah kalau Allah jadikan engkau seorang Khalifah di bumi yang memerintah manusia dengan hukuman yang benar?” Dijawabnya: “Kalau Tuhanku menyuruh pilih, akan saya pilih ‘Afiat (selamat) dan saya tidak mahu bala (ujian). Tetapi kalau saya ditugaskan juga saya akan turut. Kerana saya tahu bahawa Allah Taala kalau menetapkan sesuatu kepada saya pasti Dia menolong dan memelihara saya.”Kemudian dikatakan para malaikat pula bertanya: “Hai Luqman! Adakah engkau suka diberi Hikmah?” Dijawabnya: “Sesungguhnya seorang hakim kedudukannya berat, dia akan didatangi oleh orang-orang yang teraniaya dari segenap tempat. Kalau hakim adil akan selamat, dan kalau tersalah jalan akan tersalah pulan jalannya ke neraka. Siapa yang keadaannya hidup di dunia, itu lebih baik daripada dia menjadi mulia. Dan siapa yang memilih dunia lebih daripada akhirat, akan terfitnah oleh dunia dan tidak mendapat akhirat.”
Para malaikat pun takjub mendengarkan kebagusan kata-katanya itu. Apabila Luqman tertidur semula, dia dikurniakan Hikmah, lalu terjaga dan berbicara dengan kata-kata yang berhikmah selepas itu.
Juga diriwayatkan bahawa Luqman itu seorang hamba bangsa Habsyi, kerjanya sebagai tukang kayu, tukang jahit dan seorang penggembala kambing. Apabila bertemu dengan seorang lelaki dia bercakap dengan penuh Hikmah, sehingga orang lelaki itu takjub lalu berkata: “Bukankah engkau seorang penggembala kambing?” Dijawabnya: “Benar!” Lalu ditanya orang lelaki itu lagi: “Bagaimana engkau telah dapat mencapai kedudukan engkau yang begini (bijak bestari)?” Luqman menjawab: “Saya mendapatnya dengan bercakap benar, memelihara amanah dan tak ambil tahu apa yang bukan urusan saya.”

Demikian sedikit siapa itu Luqman Al-Hakim. Tidak kira siapapun dia, yang penting beliau adalah seorang yang mempunyai hikmah kebijaksanaan. Kata-katanya diberkati Allah dan dirakamkan didalam Al Quran.
Dipetik dari tulisan Muhammad Khair Ramadhan Yusuf dalam bukunya Lukman al Hakim


Kisah Luqman Al-Hakim dan Keledainya

Alkisah dalam satu riwayat menceritakan bagaimana pada suatu hari Luqman Hakim telah memasuki sebuah pasar dengan menaiki seekor keledainya, manakala anaknya pula mengikut dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, sesetengah orang yang berdiri di pinggir jalan pun berkata,

"Lihat orang tua itu yang tidak bertimbang rasa. Dia sedap-sedap duduk menaiki keledainya sedangkan anaknya pula di biarkan berjalan kaki"

Setelah mendengarkan kata-kata yang kurang sedap dari orang ramai maka Luqman pun turun dari keledainya itu lalu di letakkan anaknya di atas keledai itu dan kembali berjalan. Melihat yang demikian, maka sesetengah orang di pasar itu berkata pula,

"Sungguh biadap budak itu. Orang tuanya di biarkan berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki keledai itu"

Sebaik sahaja mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang keledai itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian sesetengah orang ramai pula berkata lagi,

"Lihat dua orang itu menunggang seekor keledai, alangkah siksanya keledai itu membawa beban yang berganda"

Oleh kerana tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari keledai itu dan menyambungkan perjalanannya, kemudian terdengar lagi suara orang berkata,

"Ada keledai tetapi tuannya berjalan kaki. Alangkah bodohnya !"


Dalam perjalanan mereka kedua beranak itu pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasihati anaknya tentang sikap manusia dan telatah mereka, katanya,

  • "Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada ALLAH SWT saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu"

Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya,

  • "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis  keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan di perdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya"

Ini Waktunya Anda Keluar Dari Pekerjaan Dan Memulai Menjadi Entrepreneur


Memulai Bisnis Sendiri Mungkin Bisa Memberi Anda Penghasilan Lebih Daripada Hanya Menjadi Karyawan.
Pilihan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan Anda yang sekarang untuk memulai bisnis bukanlah pilihan yang mudah. Kebanyakan orang memang mendambakan bekerja tanpa harus keluar dari rumah tetapi tetap menghasilkan uang. Sekalipun menyenangkan, tapi butuh kerja keras dan dedikasi tinggi.
Setiap orang memiliki banyak faktor untuk melakukan resign atau pindah kerja. Terlebih, jika Anda adalah karyawan yang sudah bertahun-tahun dan menikmati gaji tetap setiap bulan. Hal tersebut tentu saja akan membuat Anda ragu untuk resign dan fokus wirausaha. Padahal, tak sedikit orang yang lebih memilih bekerja sambil wirausaha.
Jika Anda ingin memulai bisnis, maka sebaiknya tentukan tolak ukur yang nyata. Misalnya, apa yang mendorong Anda untuk mengelola bisnis secara penuh waktu. Karena, biasanya butuh beberapa bulan untuk benar-benar mulai menjalankan bisnis sendiri secara penuh. Untuk memulainya, Anda bisa lakukan dengan cara paruh waktu. Sebagian besar waktu anda lakukan dengan bekerja di kantor dan pada saat akhir pekan tiba, jalankan bisnis pribadi anda tersebut.
Pilihan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan Anda yang sekarang untuk memulai bisnis bukanlah pilihan yang mudah. Kebanyakan orang memang mendambakan bekerja tanpa harus keluar dari rumah tetapi tetap menghasilkan uang. Sekalipun menyenangkan, tapi butuh kerja keras dan dedikasi tinggi.
Setiap orang memiliki banyak faktor untuk melakukan resign atau pindah kerja. Terlebih, jika Anda adalah karyawan yang sudah bertahun-tahun dan menikmati gaji tetap setiap bulan. Hal tersebut tentu saja akan membuat Anda ragu untuk resign dan fokus wirausaha. Padahal, tak sedikit orang yang lebih memilih bekerja sambil wirausaha.
Jika Anda ingin memulai bisnis, maka sebaiknya tentukan tolak ukur yang nyata. Misalnya, apa yang mendorong Anda untuk mengelola bisnis secara penuh waktu. Karena, biasanya butuh beberapa bulan untuk benar-benar mulai menjalankan bisnis sendiri secara penuh. Untuk memulainya, Anda bisa lakukan dengan cara paruh waktu. Sebagian besar waktu anda lakukan dengan bekerja di kantor dan pada saat akhir pekan tiba, jalankan bisnis pribadi anda tersebut.

Memberikan yang Terbaik

Banyak entrepreneur merasa bersalah karena tidak berhenti dari pekerjaannya sebagai karyawan saat memulai bisnis. Mereka merasa tidak bisa memberikan yang terbaik bagi sang atasan atau perusahaan sehingga kewalahan menjalankan dua peran sebagai karyawan dan wirausahawan. Secara umum, disarankan bagi yang mengalami masa transisi antara karyawan ke entrepreneur, sebaiknya tidak berhenti dari pekerjaan semula hingga usaha baru benar-benar menghasilkan pemasukan yang signifikan.
Banyak orang tak bisa menangani pekerjaan lebih dari satu dalam satu waktu sehingga mereka bertahan selama bertahun-tahun menjalani dua peran itu dan akibatnya kedua hal yang dijalaninya tersebut tidak menghasilkan apa-apa.

Bersikaplah Profesional

Sebaiknya Anda memilih sebuah ide yang bisa diwujudkan secara paruh waktu. Artinya, gunakan waktu luang untuk memperkaya wawasan. Disaat orang lain sedang bersantai menikmati makan siang atau jam istirahat, maka Anda bisa menggunakan waktu itu untuk terus menambah pengetahuan dan wawasan mengenai bisnis yang akan Anda kelola. Namun Anda juga harus dapat membedakan antara waktu untuk bisnis rintisan Anda dengan mencuri waktu di kantor. Bersikaplah professional, jika Anda dibayar untuk melakukan sebuah pekerjaan, maka Anda harus menyelesaikannya terlebih dulu.

Belajar Bertanggung Jawab

Jika telah menetapkan keputusan resign maka sebaiknya Anda harus memastikan tak ada lagi tanggung jawab yang belum selesai. Belajarlah untuk bertanggung jawab dengan menyelesaikan apa yang telah Anda mulai. Jangan sekali-kali menentukan rencana kerja setengah hati. Pasalnya, bisnis yang Anda mulai tersebut akan menjadi penopang hidup Anda. Uang memang bukanlah faktor utama dalam menjalankan bisnis. Namun, Anda juga harus tahu bagaimana bertindak dan disiplin menjadi seorang bos bagi diri sendiri. Saat menjadi bos bagi diri sendiri, itu berarti Anda harus benar-benar menghargai waktu, uang dan proyek.

Saatnya Mengatur Keuangan

Langkah selanjutnya adalah mengetahui pemasukan dan pengeluaran Anda setiap bulan. Termasuk untuk apa dan bagaimana pengeluaran dan pendapatan tersebut didapat. Hitunglah seluruh keuangan anda dengan baik, tak hanya keuangan pribadi tapi juga perkiraan biaya yang diperlukan untuk memulai bisnis sendiri tersebut. Anda harus membuat rincian keuangan sejak awal bisnis dibangun. Dengan angka-angka keuangan yang sudah diatur maka kemampuan finansial Anda akan terlihat dengan jelas.
Mencari klien tidak semudah yang dibayangkan, hal tersebut memerlukan banyak waktu dan tenaga. Oleh karena itu, tunggu sampai benar-benar klien dan keuangan anda siap dikerjakan secara total, sehingga membantu anda dalam mengatur manajemen waktu.

Menentukan Klien Potensial

Mencari klien tidak semudah yang dibayangkan, hal tersebut memerlukan banyak waktu dan tenaga. Oleh karena itu, tunggu sampai benar-benar klien dan keuangan Anda siap dikerjakan secara total, sehingga membantu anda dalam mengatur manajemen waktu. Anda harus dapat menentukan calon klien potensial sehingga usaha yang dijalankan tetap akan berjalan dan tidak berhenti ditengah jalan. Hal ini dikarenakan, kunci kesuksesan sebuah bisnis adalah memastikan pekerjaan terus mengalir. Oleh karena itu, atur semua jadwal pekerjaan agar klien tetap memutuskan untuk bekerja sama, sehingga Anda mendapat pemasukan tetap setiap akhir bulan.

Jangan Paksakan Balita Anda Belajar Calistung (Baca Tulis Hitung) !

   Anak usia di bawah lima tahun (balita) sebaiknya tak buru-buru diajarkan baca tulis dan hitung (calistung). Jika dipaksa calistung si anak akan terkena 'Mental Hectic'.

''Penyakit itu akan merasuki anak tersebut di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD). Oleh karena itu jangan bangga bagi Anda atau siapa saja yang memiliki anak usia dua atau tiga tahun sudah bisa membaca dan menulis,'' ujar Sudjarwo, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ditjen PNFI Kemendiknas, beberapa waktu yang lalu.

Oleh karena itu, kata Sudjarwo, pengajaran PAUD akan dikembalikan pada 'qitah'-nya. Kemendiknas mendorong orang tua untuk menjadi konsumen cerdas, terutama dengan memilih sekolah PAUD yang tidak mengajarkan calistung.

Saat ini banyak orang tua yang terjebak saat memilih sekolah PAUD. Orangtua menganggap sekolah PAUD yang biayanya mahal, fasilitas mewah, dan mengajarkan calistung merupakan sekolah yang baik. ''Padahal tidak begitu, apalagi orang tua memilih sekolah PAUD yang bisa mengajarkan calistung, itu keliru,''  jelas Sudjarwo.

Sekolah PAUD yang bagus justru sekolah yang memberikan kesempatan pada anak untuk bermain, tanpa membebaninya dengan beban akademik, termasuk calistung.  Dampak memberikan pelajaran calistung pada anak PAUD, menurut Sudjarwo, akan berbahaya bagi anak itu sendiri. ''Bahaya untuk konsumen pendidikan, yaitu anak, terutama dari sisi mental,'' cetusnya.

Memberikan pelajaran calistung pada anak, menurut Sudjarwo, dapat menghambat pertumbuhan kecerdasan mental. ''Jadi tidak main-main itu, ada namanya 'mental hectic', anak bisa menjadi pemberontak,'' tegas dia.

Kesalahan ini sering dilakukan oleh orang tua, yang seringkali bangga jika lulus TK anaknya sudah dapat calistung. Untuk itu, Sudjarwo mengatakan, Kemendiknas sedang gencar mensosialisasikan agar PAUD kembali pada fitrahnya. Sedangkan produk payung hukumnya sudah ada, yakni SK Mendiknas No 58/2009. ''SK nya sudah keluar, jadi jangan sembarangan memberikan pelajaran calistung,'' jelasnya.

Sosialisasi tersebut, kata Sudjarwo, telah dilakukan melalui berbagai pertemuan di tingkat kabupaten dan provinsi.  Maka Sudjarwo sangat berharap pemerintah daerah dapat menindaklanjuti komitmen pusat untuk mengembalikan PAUD pada jalurnya. ''Paling penting pemda dapat melakukan tindak lanjutnya,'' jawab dia.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Srie Agustina, Koordinator Komisi Edukasi dan Komunikasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), menyatakan, memilih mensosialisasikan produk pendidikan  merupakan bagian dari fungsi dan tugas BPKN untuk melakukan perlindungan terhadap konsumen.

Dalam hal ini, kata Srie, BPKN memprioritaskan sosialisasi pada anak usia dini. Sebab berdasarkan Konvensi Hak Anak, setiap anak memiliki empat hak dasar.  Salah satunya adalah hak untuk mendapatkan perlindungan dalam kerugian dari barang dan produk, termasuk produk pendidikan. ''Untuk itu sejak dini anak dilibatkan, karena di usia itulah pembentukan karakter terjadi,'' papar Srie.

Namun menurut Srie, mengedukasi tentang sebuah produk harus menggunakan metode khusus.  Tidak dapat berwujud arahan dan larangan, namun dengan cara yang menyenangkan, salah satunya dengan festival mewarnai sebagai salah satu teknik untuk memberikan edukasi. ''Dengan mewarnai, mereka bisa terlibat dan merasa lebur di dalamnya, selain itu dalam gambar yang diwarnai tersebut disisipkan pesan-pesan yang ingin disampaikan,'' pungkasnya. 

Mengintip Perbedaan Sistem Sekolah di Jepang dan Indonesia




  Anak saya bersekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) kota Tokyo, Jepang. Pekan lalu, saya diundang untuk menghadiri acara “open school” di sekolah tersebut. Kalau di Indonesia, sekolah ini mungkin seperti SD Negeri yang banyak tersebar di pelosok nusantara. Biaya sekolahnya gratis dan lokasinya di sekitar perumahan.

Pada kesempatan itu, orang tua diajak melihat bagaimana anak-anak di Jepang belajar. Kami diperbolehkan masuk ke dalam kelas, dan melihat proses belajar mengajar mereka. Saya bersemangat untuk hadir, karena saya meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa tidak bisa dilepaskan dari bagaimana bangsa tersebut mendidik anak-anaknya.
Melihat bagaimana ketangguhan masyarakat Jepang saat gempa bumi lalu, bagaimana mereka tetap memerhatikan kepentingan orang lain di saat kritis, dan bagaimana mereka memelihara keteraturan dalam berbagai aspek kehidupan, tidaklah mungkin terjadi tanpa ada kesengajaan. Fenomena itu bukan sesuatu yang terjadi “by default”, namun pastilah “by design”. Ada satu proses pembelajaran dan pembentukan karakter yang dilakukan terus menerus di masyarakat.
Dan saat saya melihat bagaimana anak-anak SD di Jepang, proses pembelajaran itu terlihat nyata. Fokus pendidikan dasar di sekolah Jepang lebih menitikberatkan pada pentingnya “Moral”. Moral menjadi fondasi yang ditanamkan “secara sengaja” pada anak-anak di Jepang. Ada satu mata pelajaran khusus yang mengajarkan anak tentang moral. Namun nilai moral diserap pada seluruh mata pelajaran dan kehidupan.
Sejak masa lampau, tiga agama utama di Jepang, Shinto, Buddha, dan Confusianisme, serta spirit samurai dan bushido, memberi landasan bagi pembentukan moral bangsa Jepang. Filosofi yang diajarkan adalah bagaimana menaklukan diri sendiri demi kepentingan yang lebih luas. Dan filosofi ini sangat memengaruhi serta menjadi inti dari sistem nilai di Jepang.
Anak-anak diajarkan untuk memiliki harga diri, rasa malu, dan jujur. Mereka juga dididik untuk menghargai sistem nilai, bukan materi atau harta.
Di sekolah dasar, anak-anak diajarkan sistem nilai moral melalui empat aspek, yaitu Menghargai Diri Sendiri (Regarding Self), Menghargai Orang Lain (Relation to Others), Menghargai Lingkungan dan Keindahan (Relation to Nature & the Sublime), serta menghargai kelompok dan komunitas (Relation to Group & Society). Keempatnya diajarkan dan ditanamkan pada setiap anak sehingga membentuk perilaku mereka.
Pendidikan di SD Jepang selalu menanamkan pada anak-anak bahwa hidup tidak bisa semaunya sendiri, terutama dalam bermasyarakat. Mereka perlu memerhatikan orang lain, lingkungan, dan kelompok sosial. Tak heran kalau kita melihat dalam realitanya, masyarakat di Jepang saling menghargai. Di kendaraan umum, jalan raya, maupun bermasyarakat, mereka saling memperhatikan kepentingan orang lain. Rupanya hal ini telah ditanamkan sejak mereka berada di tingkat pendidikan dasar.
Empat kali dalam seminggu, anak saya kebagian melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Ia harus membersihkan dan menyikat WC, menyapu dapur, dan mengepel lantai. Setiap anak di Jepang, tanpa kecuali, harus melakukan pekerjaan-pekerjaan itu. Akibatnya mereka bisa lebih mandiri dan menghormati orang lain.
Kebersahajaan juga diajarkan dan ditanamkan pada anak-anak sejak dini. Nilai moral jauh lebih penting dari nilai materi. Mereka hampir tidak pernah menunjukkan atau bicara tentang materi.
Anak-anak di SD Jepang tidak ada yang membawa handphone, ataupun barang berharga. Berbicara tentang materi adalah hal yang memalukan dan dianggap rendah di Jepang.
Keselarasan antara pendidikan di sekolah dengan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dan masyarakat juga penting. Apabila anak di sekolah membersihkan WC, maka otomatis itu juga dikerjakan di rumah. Apabila anak di sekolah bersahaja, maka orang tua di rumah juga mencontohkan kebersahajaan. Hal ini menjadikan moral lebih mudah tertanam dan terpateri di anak.
Dengan kata lain, orang tua tidak “membongkar” apa yang diajarkan di sekolah oleh guru. Mereka justru mempertajam nilai-nilai itu dalam keseharian sang anak.
Saat makan siang tiba, anak-anak merapikan meja untuk digunakan makan siang bersama di kelas. Yang mengagetkan saya adalah, makan siang itu dilayani oleh mereka sendiri secara bergiliran. Beberapa anak pergi ke dapur umum sekolah untuk mengambil trolley makanan dan minuman. Kemudian mereka melayani teman-temannya dengan mengambilkan makanan dan menyajikan minuman.
Hal seperti ini menanamkan nilai pada anak tentang pentingnya melayani orang lain. Saya yakin, apabila anak-anak terbiasa melayani, sekiranya nanti menjadi pejabat publik, pasti nalurinya melayani masyarakat, bukan malah minta dilayani.
Saya sendiri bukan seorang ahli pendidikan ataupun seorang pendidik. Namun sebagai orang tua yang kemarin kebetulan melihat sistem pendidikan dasar di SD Negeri Jepang, saya tercenung. Mata pelajaran yang menurut saya “berat” dan kerap di-“paksa” harus hafal di SD kita, tidak terlihat di sini. Satu-satunya hafalan yang saya pikir cukup berat hanyalah huruf Kanji.
Sementara, selebihnya adalah penanaman nilai.
Besarnya kekuatan industri Jepang, majunya perekonomian, teknologi canggih, hanyalah ujung yang terlihat dari negeri Jepang. Di balik itu semua ada sebuah perjuangan panjang dalam membentuk budaya dan karakter. Ibarat pohon besar yang dahan dan rantingnya banyak, asalnya tetap dari satu petak akar. Dan akar itu, saya pikir adalah pendidikan dasar.
Sistem pendidikan Jepang seperti di atas tadi, berlaku seragam di seluruh sekolah. Apa yang ditanamkan, apa yang diajarkan, merata di semua sekolah hingga pelosok negeri. Mungkin di negeri kita banyak juga sekolah yang mengajarkan pembentukan karakter. Ada sekolah mahal yang bagus. Namun selama dilakukan terpisah-terpisah, bukan sebagai sistem nasional, anak akan mengalami kebingungan dalam kehidupan nyata. Apalagi kalau sekolah mahal sudah menjadi bagian dari mencari gengsi, maka satu nilai moral sudah berkurang di sana.
Di Jepang, masalah pendidikan ditangani oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, dan Ilmu Pengetahuan Jepang (MEXT) atau disebut dengan Monkasho. Pemerintah Jepang mensentralisir pendidikan dan mengatur proses didik anak-anak di Jepang. MEXT menyadari bahwa pendidikan tak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena dalam proses pendidikan, anak diajarkan budaya dan nilai-nilai moral.
Mudah-mudahan dikeluarkannya kata “Budaya” dari Departemen “Pendidikan dan Kebudayaan” sehingga “hanya” menjadi Departemen “Pendidikan Nasional” di negeri kita, bukan berarti bahwa pendidikan kita mulai melupakan “Budaya”, yang di dalamnya mencakup moral dan budi pekerti.
Hakikat pendidikan dasar adalah juga membentuk budaya, moral, dan budi pekerti, bukan sekedar menjadikan anak-anak kita pintar dan otaknya menguasai ilmu teknologi. Apabila halnya demikian, kita tak perlu heran kalau masih melihat banyak orang pintar dan otaknya cerdas, namun miskin moral dan budi pekerti. Mungkin kita terlewat untuk menginternalisasi nilai-nilai moral saat SD dulu. Mungkin waktu kita saat itu tersita untuk menghafal ilmu-ilmu “penting” lainnya.
Demikian sekedar catatan saya dari menghadiri pertemuan orang tua di SD Jepang.
Salam.

Bandingkan dengan SD kita yg masih saja meributkan ANAK-ANAK SD HARUS SUDAH BISA CALISTUNG dan KKM, REMIDIAL, TES dan UAN.

Download Mp3 Murottal Al Qur’an Syaikh Misyari Rasyid Alafasy 30 Juz




Surah No.
Surah Name Download MP3
1Al-FatihahDownload
2Al-BaqarahDownload
3Al-ImranDownload
4An-Nisa’Download
5Al-Ma’idahDownload
6Al-An’amDownload
7Al-A’rafDownload
8Al-AnfalDownload
9At-TaubahDownload
10YunusDownload
11HoodDownload
12YusufDownload
13Ar-Ra’dDownload
14IbrahimDownload
15Al-HijrDownload
16An-NahlDownload
17Al-IsraDownload
18Al-KahfDownload
19MaryamDownload
20Ta­HaDownload
21Al-Anbiya’Download
22Al-HajjDownload
23Al-Mu’minunDownload
24An-NurDownload
25Al-FurqanDownload
26Ash-Shu’ara’Download
27An-NamlDownload
28Al-QasasDownload
29Al-‘AnkabutDownload
30Ar­RoomDownload
31LuqmanDownload
32As­SajdahDownload
33Al­AhzabDownload
34Saba’Download
35FatirDownload
36Ya­SinDownload
37As-SaffatDownload
38SadDownload
39Az-ZumarDownload
40GhafirDownload
41FussilatDownload
42Ash-ShuraDownload
43Az-ZukhrufDownload
44Ad-DukhanDownload
45Al-JathiyaDownload
46Al-AhqafDownload
47MuhammadDownload
48Al-FathDownload
49Al-HujuratDownload
50QafDownload
51Az-ZariyatDownload
52At-TurDownload
53An-NajmDownload
54Al-QamarDownload
55Ar-RahmanDownload
56Al-Waqi’ahDownload
57Al-HadidDownload
58Al-MujadilahDownload
59Al-HashrDownload
60Al-MumtahinahDownload
61As-SaffDownload
62Al-Jumu’ahDownload
63Al-MunafiqunDownload
64At-TaghabunDownload
65At-TalaqDownload
66At-TahrimDownload
67Al-MulkDownload
68Al-QalamDownload
69Al-HaqqahDownload
70Al-Ma’arijDownload
71NoohDownload
72Al-JinnDownload
73Al-MuzzammilDownload
74Al-MuddaththirDownload
75Al-QiyamahDownload
76Al-InsanDownload
77Al-MursalatDownload
78An-Naba’Download
79An-Nazi’atDownload
80‘AbasaDownload
81At-TakwirDownload
82Al-InfitarDownload
83Al-MutaffifinDownload
84Al-InshiqaqDownload
85Al-BurujDownload
86At-TariqDownload
87Al-A’laDownload
88Al-GhashiyahDownload
89Al-FajrDownload
90Al-BaladDownload
91Ash-ShamsDownload
92Al-LailDownload
93Ad-DuhaDownload
94Ash-SharhDownload
95At-TinDownload
96Al-‘AlaqDownload
97Al-QadrDownload
98Al-BaiyinahDownload
99Az-ZalzalahDownload
100Al-‘AdiyatDownload
101Al-Qari’ahDownload
102At-TakathurDownload
103Al-‘AsrDownload
104Al-HumazahDownload
105Al-FilDownload
106QuraishDownload
107Al-Ma’unDownload
108Al-KautharDownload
109Al-KafirunDownload
110An-NasrDownload
111Al-MasadDownload
112Al-IkhlasDownload
113Al-FalaqDownload
114An-NasDownload
Note : Klik ulang link Download jika server tidak merespon atau reload page.
===============
Sumber Link :
Disini
Official Website Syaikh Mishari Rashid Alafasy : Disini